banner 728x250

Adab Bertemu Guru

  • Bagikan

1. Memilih Guru dan Beristikharah
الأول: أنه ينبغي للطالب أن يقدم النظر ويستخير الله
فيمن يأخذ العلم عنه
Pertama, Hendaknya seorang murid menimbang dan melakukan istikharah kepada Allah tentang seorang guru yang mau diambil ilmunya

2. Berakhlak Yang Baik
ويكتسب حسن الأخلاق والآداب منه
Mendapatkan kebaikan perilaku (akhlak) serta adab darinya

3. Mencari Guru Yang Mempunyai Kompetensi
وليكن إن أمكن ممن كملت أهليته وتحققت شفقته
وظهرت مروءته وعرفت عفته واشتهرت صيانته وكان
أحسن تعليمًا وأجود تفهيمًا
Hendaknya jika memungkinkan, memilih guru yang memiliki kompetensi/kapabilitas secara baik, benar-benar mempunyai rasa belas kasih, nampak kewibawaannya, diketahui kebaikan
kesederhanaanya, dikenal keterjagaannya, paling baik pengajarannya dan paling bagus dalam memahamkan ilmu.

4. Murid Harus Wara’
ولا يرغب الطالب في زيادة العلم مع نقص في ورع أو
دين أو عدم خلق جميل.
Seorang murid tidak menginginkan penambahan ilmu tatkala kurang teguh dalam bersikap wara’ atau beragama, atau tidak memiliki tingkah laku yang baik
فعن بعض السلف: هذا العلم دين فانظروا عمن
تأخذون دينكم.
Sebagian Ulama Salaf mengatakan: Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.

5. Menimba Ilmu Karena Popularitas Guru
وليحذر من التقييد بالمشهورين وترك الأخذ عن
الخاملين
Hindari menimba ilmu karena popularitas guru dan meninggalkan orang ahli ilmu yang tidak populer.
فقد عدّ الغزالي وغيره ذلك من الكبر على العلم وجعله
عين الحماقة؛ لأن الحكمة ضالة المؤمن يلتقطها حيث
وجدها ويغتنمها حيث ظفر بها، ويتقلد المنّة لمن ساقها
إليه فإنه يهرب من مخافة الجهل كما يهرب من الأسد،
والهارب من الأسد لا يأنف مِنْ دلالة مَنْ يدله على
الخلاص كائنًا من كان.
Imam Ghazali dan yang lainnya menilai bahwa tindakan tersebut termasuk dari kesombongan terhadap ilmu, dan menjadikannya sebagai tindakan dungu, karena Hikmah itu adalah sebuah barang yang hilang milik orang beriman, dia memungutnya dimanapun ia menemukannya, memanfaatkannya dimanapun dia meraihnya, dan dia menyandarkan karunia kepada siapa yang membawanya kepadanya, karena penimba ilmu berlari dari jeratan kebodohan sebagaimana dia berlari dari terkaman singa, dan orang yang berlari dari terkaman singa tidak menolak arahan siapapun yang mengarahkannya agar bisa selamat.

6. Keberkahan Guru Yang Tidak Populer
فإذا كان الخامل ممن ترجى بركته كان النفع به أعم
والتحصيل من جهته أتم، وإذا سبرت أحوال السلف
والخلف لم تجد النفع يحصل غالبًا والفلاح يدرك طالبًا
إلا إذا كان للشيخ من التقوى نصيب وافر، وعلى
شفقته ونصحه للطلبة دليل ظاهر.
Jika guru yang tidak populer termasuk orang yang keberkahannya diharapkan, maka manfaatnya lebih menyeluruh dan menggali ilmu darinya lebih sempurna. Jika kamu meneliti kehidupan generasi salaf dan khalaf, pada umumnya kamu tidak pernah mendapati manfaat yang terwujud dan keberuntungan yang berpihak kepada penimba ilmu, kecuali jika guru memiliki bagian melimpah dari ketakwaan, dan terbukti secara nyata pada sebuah kasih sayang serta nasehatnya kepada para murid.
وكذلك إذا اعت برت المصنفات وجدت الانتفاع بتصنيف
الأتقى الأزهد أوفر والفلاح بالاشتغال به أكثر.
Demikian juga jika kamu membuka buku-buku, kamu mengetahui bahwa buku yang ditulis oleh orang yang lebih bertakwa dan lebih zuhud itu lebih luas manfaatnya, dan keberuntungan dengan menyibukkan diri dengannya lebih besar.

7. Mencari Guru Yang Jelas Riwayat Belajarnya
وليجتهد على أن يكون الشيخ ممن له على العلوم
الشرعية تمام الإطلاع، وله مع من يوثق به من مشايخ
عصره كثرة بحث وطول اجتماع، لا ممن أخذ عن بطون
الأوراق ولم يعرف بصحبة المشايخ الحذاق.
Hendaklah berusaha mendapatkan syaikh/ guru yang memiliki pengetahuan ilmu-ilmu syar’i secara sempurna, dan beliau senantiasa bersama para masyayikh (guru-guru) dizamannya untuk memperbanyak kajian dan berkumpul dalam waktu yang lama, bukan mencari guru yang mengambil ilmu dari perut buku (otodidak) dan tidak diketahui kebersamaannya dengan para masyayikh yang mumpuni.

8. Bahaya Otodidak
قال الشافعي رضي الله عنه: من تفقه من بطون الكتب
ضيع الأحكام. وكان بعضهم يقول: من أعظم البلية
تشيخ الصحيفة. أي الذين تعلموا من الصحف.
Imam Syafii Radhiyallahu ‘anhu berkata: siapa yang bertafaqquh dari perut buku (otodidak), ia telah menyia-nyiakan hukum. Dan sebagian mengatakan: diantara musibah yang besar adalah berguru kepada lembaran kertas (dengan pemahamannya sendiri tanpa ada guru yang akan mengoreksi jika ada kesalahan)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *