banner 728x250

Download Biografi Imam Asy-Syafi’i [PDF]

  • Bagikan

Nama asli yang mulia Imam Asy-Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saaib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththolib bin Abdi Manaf al-Muththolibi al-Qurasyi.
Memiliki kunyah Abu Abdillah, akan tetapi lebih dikenal dengan sebutan Imam asy-Syafi’i, yang diambil dari nama kakek beliau, daripada nama kunyah beliau. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang lebih dikenal dengan nama kunyahnya ini daripada nama asli beliau yaitu; an-Nu’man bin Tsabit.

Ayah Imam asy-Syafi’i -Idris bin al-Abbas- dahulu tinggal di kota Madinah hingga kemudian karena suatu hal, beliau memutuskan beserta keluarganya untuk pindah ke daerah Asqolan; sebuah kota di sebelah barat daya kota Palestina, dekat dengan wilayah Gazza. Namun sangat disayangkan bahwa takdir berkata lain, beliau wafat tidak lama setelah kelahiran Imam as-Syaf’i kecil.

Kakek Imam asy-Syafi’i yang ke-enam dari jalur ayahnya yang bernama Abdi Yazid bin Hasyimbin al-Muththolibi adalah termasuk golongan sahabat Nabi saw. Meskipun beliau telah lanjut usia di kala itu, tapi beliau bertemu dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Adapun istrinya yang bernama asy- Syifa binti Hasyim bin Abdi Manaf merupakan saudara perempuan dari Abdul Mutholib bin Hasyim; kakek Nabi Muhammad saw. Secara keseluruhan ada empat kakek Imam asy-Syafi’i yang tergolong dalam generasi sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka adalah; Syafi’, as-Saaib, Ubaid, dan Abdi Yazid. Dan boleh jadi tersebab kakenya Syafi’ yang merupakan seorang sahabat Nabi saw inilah, Imam Muhammad bin Idris lebih dikenal dengan nama asy-Syafi’i.

Adapun Ibu dari Imam asy-Syafi’i, maka para ulama ahli sejarah umumnya menyebutkan bahwa beliau berasl dari suku Azd. Adapun namanya, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Baihaqi, adalah Fatimah binti Ubaidillah bin al-Hasan bin al-Husain bin Ali bin Abi Tholib ra. Namun riwayat ini disebut oleh Imam al-Fakhrurrozi sebagai riwayat yang syad (lemah).

Terlepas dari perbedaan para ulama dalam menyebut nama Ibu dari Imam asy-Syafi’i dan juga pepatah yang mengatakan ‘apalah arti sebuah nama’, ada hal yang penting untuk kita perhatikan sekaligus membuat takjub adalah bagaimana beliau berjuang merawat, mendidik dan memotivasi Imam asy-Syafi’i kecil untuk menuntut ilmu dengan situasi yang begitu sulit kala itu hingga beliau berhasil menjadi seorang Imam Besar kaum muslimin di kemudian hari. Padahal Imam asy-Syafi’i telah yatim sejak kecil, juga beliau tidak terlahir dalam sebuah lingkungan keluarga akademis meskipun ibunda beliau sangat konsen dan mencintai ilmu. Juga sulitnya kondisi ekonomi keluarga beliau yang tergolong orang yang miskin.

Dilihat dari jalur nasabnya, maka nasab Imam as-Syafi’i ini begitu mulia, apalagi garis keturunan beliau menyambung dengan nasab Rasulullah saw, yaitu pada kakek beliau; Abdi Manaf bin Qushay. Maka para ulama setidaknya menyebut ada dua keutamaan yang ada pada nasab Imam asy-Syafi’i, yaitu;
Pertama, tentu saja karena beliau berasal dari suku Quraisy. Sebuah keutamaan yang tidak dimiliki oleh imam madzhab yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal. Dari sahabat Abi Hurairah, Nabi saw bersabda,
الناس تبع لقريش في هذا الشأن، مسلمهم تبع لمسلمهم، وكافرهم تبع لكافرهم
“Manusia adalah para pengikut suku Quraisy. Kaum muslimnya mengikuti kaum muslim Quraisy, pun dengan orang kafirnya juga mengikuti orang kafir Quraisy.”

Syaikh Mustafa Dieb al-Bugha mengomentari, maksud hadits ini adalah karena suku Quraisy merupakan pemimpin yang mula-mula, dan orang-orang pada waktu itu wajib untuk menaati mereka dalam hal kepemimpinan.
Kedua, karena beliau seorang Muththolibi yaitu berasal dari Bani Muththolib. Rasulullah saw yang termasuk Bani Hasyim bersabda,
إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد

“Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani Muththolib adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.”

Berpegang dengan hadits ini, Imam al-Baihaqi menyimpulkan bahwa jika seseorang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya (Bani Hasyim) maka sholawat dan doa itu juga mengalir ke anak keturunan Bani Muththolib.
Yang Mulia Imam asy-Syafi’i lahir di wilayah Gazza di Palestina pada tahun 150 H/767 M, yaitu tahun yang sama dengan wafatnya Yang Mulia Imam Abu Hanifah. Selama hidupnya, beliau mengalami enam kali pergantian kepemimpinan di masa Bani Abbasiyah. Mereka adalah Abu Ja’far al-Manshur (136-158 H), Muhammad al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Manshur (158-169 H), Musa al-Hadi bin Muhammad al-Mahdi (169-170 H), Harun ar-Rosyid bin Muhammad al-Mahdi (170-193 H), Muhammad al-Amin bin Harun ar-Rosyid (193-198 H), dan Abdullah al-Makmun bin Harun ar-Rosyid (198-218 H)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *