banner 728x250

Mengenal Imam As-Suyuthi

  • Bagikan

Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Kamal bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin bin Bakr Utsman bin Nadziruddin al-Himam al-Khudhairi as-Suyuthi al-Mishri as-Syafi’i. Laqab beliau adalah Jalaludin as-Suyuthi sedangkan kunyah-nya adalah Abu Fadhl.
Kakek beliau yaitu Sabiquddin adalah seorang ahli hakikat dan merupakan seorang syekh thariqah dalam dunia tasawuf. Keluarga imam Suyuthi umumnya merupakan orang-orang terpandang yang memiliki kedudukan, ada yang menjadi pejabat pemerintahan, ada juga yang menjadi pengusaha besar di zaman itu. Hanya orang tua imam Suyuthi saja yang konsen berkhidmah dalam keilmuan agama.

Beliau lahir di sebuah daerah bernama Asyut di negri Mesir pada malam Ahad bulan Rajab tahun 849 H. Imam as-Suyuthi tumbuh dalam keadaan yatim. Ayahnya wafat pada saat usia Imam as-Suyuthi belum genap enam tahun. Di masa kecilnya as-Suyuthi mendapat julukan Ibnul Kitab (anak buku), yaitu tatkala sang Ibu hamil besar, sang Ayah memintanya mengambilkan beberapa kitab di perpustakaan pribadinya. Ketika ingin mengambil buku-buku itulah tetiba sang Ibu merasa hendak melahirkan, dan akhirnya bayi mungil as-Suyuthi lahir diantara kitab-kitab di perpustakaan Ayahnya.

Perjalanan menuntut ilmu bagi Imam as-Suyuthi memang telah ditanamkan oleh sang Ayah bahkan sejak beliau balita. Yaitu ketika sang Ayah sering membawanya menghadiri majlis ilmu seorang syaikh terkenal, yang dikemudian hari baru beliau ketahui -melalui kolega sang Ayah bahwa syaikh tersebut adalah al-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar as-Asqalani.
Sebelum mencapai usia delapan tahun, imam as-Suyuthi sudah hafal Al-Qur’an dan beberapa kitab yang lain seperti Umdah al-Ahkam karya al-Maqdisi, Minhaj an-Nawawi, Minhaj al-Baidhowi dan Alfiyah Ibnu Malik.

Pada usia 15 tahun beliau mulai lebih dalam lagi mempelajari berbagai jenis ilmu keagamaan, beliau belajar ilmu fiqh dan nahwu kepada beberapa syekh. Belajar ilmu faraidh (waris) kepada syekh Syihabudin as-Syarimasahi, yang merupakan pakar faroidh di zamannya. Beliau juga ber-mulazamah mempelajari fiqih kepada Syaikhul Islam al-Bulqini hingga wafatnya, kemudian berlanjut kepada putranya Alamuddin al-Bulqini.

Dalam belajar ilmu tafsir, ushul dan bahasa arab beliau berguru kepada Ustadz al-Wujud Muhyiddin al-Kafiji selama 14 tahun. Masih banyak lagi jenis ilmu dan masyayikh tempat beliau belajar. Selain di negrinya sendiri, Imam as-Suyuthi juga berkelana mencari ilmu ke berbagai kota dan negri, diantaranya Fayum, Mahilah, Dimyath, negri Syam, Hijaz, Yaman, Indian dan Maroko.

Para ulama mengatakan bahwa ada dua hal utama yang menjadi sebab keberkahan ilmu Imam as-Suyuthi hingga mengantarkannya menjadi ulama besar abad ke-10. Pertama, keterbukaan fikirannya. Meskipun beliau seorang yang bermadzhab syafi’i, tetapi hal itu tidak membatasi beliau untuk menimba ilmu kepada guru-guru yang berlainan madzhab. Misalnya ketika beliau berguru kepada Izzuddin Ahmad bin Ibrahim al-Kinani yang bermadzhab Hanbali, dan kepada Ibrahim bin Muhammad bin ‘Abdillah bin al-Dairiy yang bermadzhab Hanafi. Kedua, konsistensi beliau dalam menuntut ilmu. Tercatat dalam sejarah, bahwa tidaklah Imam as-Suyuthi keluar dari madrasah seorang guru melainkan beliau telah menguasai bidang keilmuan tersebut atau karena gurunya itu meninggal dunia. Sehingga tak jarang, Imam as-Suyuthi bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bermulazamah kepada gurunya.

Az-Zirikli menyebut bahwa Imam as-Suyuthi adalah seorang imam besar, ahli hadis, sejarawan ulung sekaligus pakar bahasa dan seorang penulis yang produktif. Imam Suyuthi dianugrahi oleh Allah swt keluasan ilmu dalam tujuh bidang ilmu keagamaan yang berbeda, yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu nahwu, ilmu ma’ani, ilmu bayan dan ilmu badi’. Bahkan beliau begitu percaya diri mengunggulkan dirinya dihadapan khalayak ramai, beliau berkata, “Sesungguhnya penguasaanku terhadap ketujuh ilmu ini belum ada yang menandingi bahkan dari kalangan guru-guruku, kecuali ilmu fiqih dan ilmu riwayat”

Dalam bidang hadis beliau berkata mengenai dirinya sendiri, “Aku hafal dua ratus ribu hadis. Jika masih ada selainnya, pasti aku akan hafal juga. Dan sekiranya -di zaman ini- tidak ada yang menandingiku dalam hal tersebut.”
Kecerdasan Imam as-Suyuthi nampaknya tak perlu diragukan lagi. Ketika masih berumur tujuh belas tahun, beliau sudah mendapat persetujuan dari para gurunya untuk menjadi pengajar bahasa Arab. Bahkan Imam al-Bulqini memberinya mandat untuk mengajar fiqih dan berfatwa padahal usia beliau baru menginjak dua puluh tujuh tahun. Banyaknya karya beliau yang tersebar dalam berbagai cabang ilmu juga menjadi dalil sahih akan kedalaman dan luasnya keilmuan yang terhimpun dalam sosok Imam as-Suyuthi.
Akidah imam as-Suyuthi adalah akidah ahlusunah wal jama’ah, itu terlihat dari kitab-kitab beliau yang Al-Kawakib as-Sairoh bi A’yani al-Miah al-Asyiroh. Jilid 1 hal 229 membela para Sahabat dan berpegang teguhnya beliau pada as-Sunnah. Beliau juga condong kepada pemikiran-pemikiran tasawuf mengikuti jejak kakeknya Nadziruddin al-Himam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *