Pentingnya Menghadirkan Niat dalam Beramal

Berikut menjelaskan tentang pentingnya niat dalam beribadah.

Perlu diketahui, semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan kepadamu serta segenap kaum Muslimin, bahwa sepatutnya bagi siapa saja yang ingin melaksanakan ketaatan, walaupun sedikit, agar ia menghadirkan niatnya. Yaitu menjadikan maksud dan tujuan dari amalnya itu semata-mata untuk meraih ridha Allah. Dan hendaklah niatnya itu dihadirkan ketika amal itu sedang dikerjakan.

Penghadiran niat ini berlaku untuk semua ibadah, baik shalat, zakat, puasa, haji, wadhu, tayamum, I’tikaf, sedekah, memenuhi berbagai kebutuhan, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memulai (mendahului) salam dan menjawabnya, mendoakan orang bersin, amar makruf dan nahi munkar, memenuhi undangan, menghadiri majelis ilmu dan majelis zikir, dan berkunjung ke tempat para ulama dan orang-orang baik, bukan untuk tujuan duniawi.

Demikian juga dalam memberi nafkah kepada keluarga dan menjamu tamu, menghormati kerabat, berbakti kepada kedua orangtua, menghormati orang-orang ter- sayang, teman-teman dan kerabat senasab, mengkaji ilmu, berdiskusi, mengulang pelajaran, mengajarkannya, mempelajarinya, membacanya, menulisnya, mengarang, dan berfatwa.

Termasuk di dalamnya membantu saudara-saudara kaum Muslimin, khusunya para pelajar, dan menolong mereka di dalamnya. Juga dalam urusan pribadi mereka serta memberikan semangat dan motivasi kepada mereka agar menuntut ilmu yang bermanfaat: memperingatkan mereka dari perbuatan bidah dan ahli bidah: mem- peringatkan mereka dari ilmu-ilmu yang berbahaya dan yang bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya.

Dan perbuatan-perbuatan sejenis lainnya, bahkan sudah sepatutnya ketika ia hendak makan, minum, atau tidur, hendaklah ia meniatkannya untuk memberi kekuatan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, atau untuk mengistirahatkan badan agar bisa tetap semangat dalam menjalankan ketaatan. Demikian juga ketika hendak melakukan hubungan badan dengan istrinya, hendaklah ia meniatkan untuk memenuhi hak istrinya, menghasilkan anak saleh yang kelak akan beribadah kepada Allah, serta menjaga diri dari melihat sesuatu yang diharamkan dan memikirkannya.

Barang siapa yang terhalang dari niat tersebut dalam semua perbuatan ini, maka ia telah terhalang dari kebaikan yang banyak. Dan barang siapa yang diberi taufik untuk itu, maka ia telah diberi keutamaan yang besar. Maka kami memohon kepada Allah Yang Mahahidup, Maha Mengurus makhluk-Nya, Mahatinggi lagi Mahaagung, Pemilik keagungan dan kemuliaan, Mahasatu lagi Maha Esa, Maha Tunggal lagi Mahakekal, Yang tidak beranak dan diberanakkan, dan yang tidak satupun yang setara dengan-Nya: semoga Allah memberikan kita taufik untuk itu dan untuk dapat melaksanakan semua amal kebaikan.

Umar bin al-Khathab berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrahnya untuk apa yang ditujunya””

Jabir bin Abdullah berkata, “Dahulu ketika kami sedang dalam perjalanan ke medan perang bersama Rasulullah, beliau bersabda, Sesungguhnya di Madinah terdapat orang orang yang tidaklah kalian menempuh perjalanan ke suatu tempat atau menuruni lembah melainkan mereka ikut bersama kalian (di dalam niat mereka): mereka terhalang
sakit” Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Mereka ikut mendapatkan pahala seperti kalian?”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Dahulu ketika kami dalam perjalanan pulang dari Perang Tabuk bersama Nabi. Beliau bersabda, “Di Madinah ada orang-orang yang tidaklah kita menempuh jalan di celah bukit atau lembah melainkan mereka ikut bersama kita (dalam niat hati mereka): mereka terhalang oleh suatu uzur!

Berikut hadits pentingnya niat dalam beramal, dalil yang menunjukkan keutamaan niat, karena mereka (yang tidak ikut berperang itu) mendapatkan pahala berperang dengan niat mereka.

Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah bersabda dalam hadis Qudsi, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaikan (bernilai pahala) dan keburukan- keburukan (dosa). Kemudian, Dia menjelaskannya, barang siapa yang berhasrat (berniat) untuk melakukan sebuah kebaikan, lalu ia tidak melaksanakannya, maka Allah me- nuliskan (menetapkan)-nya di sisinya satu pahala sempurna. Jika ia berniat melakukan kebaikan itu, lalu ia melaksana- kannya, maka Allah menuliskan baginya sepuluh pahala kebaikan hingga 700 kali lipatnya, bahkan hingga berkali- kali lipat banyak (dari itu). Jika ia berniat melakukan suatu perbuatan buruk, lalu ia tidak jadi melakukannya, maka Allah menuliskan baginya satu pahala kebaikan sempurna. Dan jika ia berniat melakukannya, lalu ia mengerjakannya, maka Allah menuliskan baginya satu (dosa) keburukan”

 

#jelaskan tentang pentingnya niat

#pentingnya niat dalam beramal

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.